Tanah Batak dan Tano Swiss

Tanah Batak dan Tano Swiss

Bila anda sudah pernah berkunjung ke sebuah Negara kecil yang sangat popular bernama Switzerland (Swiss) atau bila suatu saat nanti anda punya kesempatan untuk berkunjung kesana, anda pasti setuju bila keindahan alam tanah Batak tidak kalah dibandingkan keindahan alam Swiss. Bedanya, 2/3 dari wilayah Swiss terdiri dari hutan, gunung dan danau. Pada winter season, udara di Swiss sangat dingin dan bersalju (dibeberapa puncak gunung terdapat salju abadi), sementara di tano Batak, hutannya sudah gundul walaupun udaranya masih cukup sejuk. Alam yang indah itu serta penataan kota dan desa di Swiss membuat Negara ini menjadi salah satu Negara terindah di dunia.

Namun kehebatan Swiss yang terbesar dan diakui seluruh dunia, bukanlah pada keindahan dan objek wisatanya, tetapi prestasi Swiss sebagai Negara dengan pendapatan perkapita tertinggi di dunia (5 besar). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa warga Negara Swiss adalah orang-orang kaya dunia. Yang lebih hebat lagi, Swiss bukanlah Negara yang kaya akan sumberdaya alam seperti minyak, gas, batubara, emas, dll. Lalu pertanyaannya adalah…bagaimana bisa Negara yang tidak memiliki ‘aset terpendam’ seperti Swiss bisa menjadi begitu kaya…?

Swiss adalah salah satu Negara industri maju, namun demikian di Negara ini agak sulit menemukan kawasan industri dengan pabrik-pabrik besar yang mengepulkan asap seperti yang ada di kawasan Industri Pulo Gadung atau kawasan industri lain di Indonesia. Namun begitu bukan berarti industri yang ada di Swiss adalah industri skala kecil. Industri di Negara ini umumnya adalah industri berskala global. Industri terbesar adalah industri keuangan dan Asuransi. Swiss adalah salah satu pusat industri keuangan dunia, hampir semua orang-orang kaya di dunia menyimpan uangnya di bank-bank yang terdapat di ibu kota Negara Swiss, Zurich. Bisnis lainnya adalah industri parawisata dan konvensi yang sangat terintegrasi. Geneva adalah salah satu tempat favorit bagi penyelenggaraan sidang-sidang dan seminar-seminar tingkat global, pegunungan di Swiss adalah salah satu tempat bermain ski yang popular di Eropa. Para General Manager hotel-hotel terkemuka di dunia umumnya adalah tamatan dari sekolah-sekolah perhotelan di Swiss. Disamping itu anda pasti kenal dengan merek-merek terkenal seperti Rolex, Bally, Swiss Army, Nestle, Danone, Naovartis, Roche, ABB, dll. Ini adalah merek-merek dari produk-produk yang proses produksinya ramah lingkungan.

Pendapatan Negara ini ternyata sebahagian besar bersumber dari asset-aset yang intangible seperti paten. Swiss adalah Negara pemegang hak paten terbanyak di dunia. Bila Negara seperti Indonesia menyerahkan sumberdayanya untuk dikelola Negara-negara yang memiliki teknologi tinggi, maka Swiss justru mendapat keuntungan dari kerja keras Negara dan perusahaan yang memanfaatkan teknologi mereka yang sudah dipatenkan.

Uraian diatas memang sepertinya membawa kita bermimpi, namun cerita ini juga sebenarnya dapat bermanfaat sebagi pemicu bagi kita untuk berpikir ulang tentang bagaimana seharusnya kita membangun tano Batak. Sekilas kesannya memang agak utopis, tetapi kalau kita pikirkan lebih dalam sebenarnya menjadikan Swiss sebagai benchmark (panutan) tidaklah terlalu berlebihan mengapa….?

Bukankah karya-karya besar didunia ini dimulai dengan mimpi …..?

Dimana-mana, kalau anda ingin menjadi lebih baik, maka anda harus mencari panutan yang jauh lebih baik dari apa yang ada sekarang.

Kondisi alam dan letak geografis tanah Batak tidak terlalu berbeda dengan Swiss kecuali iklimnya. Di tano batak iklimnya cuma 2 hujan dan panas, sehingga seharusnya upaya untuk membangun tano Batak lebih mudah dibanding Swiss yang memiliki 4 musim.

Keberhasilan Swiss yang ditentukan oleh kualitas sumberdaya manusianya yang tinggi. Bukankah sumberdaya manusia Batak yang berkualitas jumlahnyua relatif cukup banyak…? Hampir di semua bidang kita dapat menemukan orang Batak yang memiliki prestasi yang luar biasa. Hanya memang sebahagian besar dari mereka tidak tinggal di tano Batak.

Bangso Batak dikenal sebagai pekerja keras dan tidak mudah menyerah.

Kalaupun tidak bisa seperti Swiss, menjadi setengahnya saja sudah luar biasa….mengutip slogannya SBY-JK…’Ayo, bersama kita bisa…!!!!!’

www.halakkita-batak.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: